Rabu, 06 April 2016

Beragama Rasa



Secara tradisi, banyak sekali ritual upacara yang diselenggarakan oleh masyarakat kita yang cenderung lebih berlandaskan kepada rasa. Rasa adalah suasana hati, atau perasaan yang timbul di dalam pikiran dan hati ketika melakukan sesuatu. Ketika seseorang telah melakukan sebuah kegiatan yang baik, maka ia merasa bahagia. Demikianpun ketika seseorang telah melaksanakan sebuah upacara keagamaan atau yadnya, ia pun merasa bahagia. Bahagia karena merasa telah melaksanakan sebuah hal yang baik, baik bagi dirinya, keluarga dan leluhurnya. Meskipun mungkin ia tidak memahami secara jelas makna dan tujuan dari ritual upacara yang ia laksanakan, namun ia merasa bahagia, merasa senang dan merasa puas.

Dalam masyarakat kita, umat Hindu di Bali, rasa adalah hal yang cenderung lebih dominan dijadikan sebagai landasan dalam kehidupan beragama terutama dalam hal pelaksanaan ritual berupacara. Tidak dapat dipungkiri bahwa nilai rasa bahkan terkadang menggeser nilai-nilai dan petunjuk dari sastra suci.
Sebuah contoh kecil, di daerah tempat tinggal saya, warga akan melaksanakan upacara ngaben secara masal setiap 3 tahun sekali. Tujuan utama dari ngaben masal ini adalah kebersamaan dan gotong royong sehingga biaya yang dibutuhkan akan menjadi jauh lebih murah, namun dalam pelaksanaannya tetap didasari dan sesuai dengan petunjuk dari sastra suci atau dari sang Sulinggih
 
Ngaben massal menjadi lebih murah karena satu jenis banten atau upakara bisa dipergunakan untuk semua orang yang ikut dalam upacara ngaben tersebut. Artinya satu untuk semua, tidak satu persatu, sebagaimana halnya ngaben yang dilaksanakan secara individu. Hal inipun sudah sesuai dengan sastra dan petunjuk sang Sulinggih. Namun karena faktor rasa, banyak juga yang merasa kurang puas atau kurang sreg dalam pelaksanaannya.

Ada yang berkomentar “I dadong, ipidan dugas nu hidup, anak lek-lekan, sing demen megarang. Pedalem di kedituan ne sing maan duman banten nyen!”. “Dulu nenek waktu masih hidup, beliau seorang yang pemalu, tidak senang berebutan. Kasihan nanti kalau di alam sana tidak kebagian sesajen”. 

Nah ini adalah rasa, rasa yang timbul dari pikiran dan pemahaman manusia. Rasa takut, rasa khawatir tentang sesuatu yang tidak benar. Tidak benarlah bahwa di alam sana, para leluhur akan berebutan banten, karena upacara dilaksanakan secara masal. Namun karena faktor rasa cenderung lebih dominan dalam pelaksanaan sebuah ritual upacara agama kita di Bali, maka seringkali sesuatu yang sejatinya bisa dilaksanakan secara sederhana , satu untuk semua, namun tetap dalam aturan sastra suci, malah diabaikan dan dipandang sebelah mata, dan masyarakat cenderung memilih ritual yang besar dan megah, meskipun dengan biaya yang jauh lebih besar.

Tidak salah jika seseorang dengan kemampuan ekonomi yang lebih, memilih upacara dengan tingkatan utama, yang megah dengan biaya yang besar. Namun akan menjadi sebuah beban bagi masyarakat dengan ekonomi rata-rata bersikeras untuk melaksanakan yang sama seperti itu, apalagi dengan menjual warisan atau berhutang. Hal utama dalam setiap ritual upacara adalah ketulusannya, rasa yang tulus inilah yang memberi nilai pada upacara tersebut, bukan besarnya banten, besarnya biaya atau kemegahannya. 

Dalam sastra suci telah dijelaskan bahwa ada tiga tingkatan berupacara yaitu Nista, Madya dan Utama. Secara kasat mata, memang akan tampak jelas perbedaannya dalam pelaksanaannya. Tingkat Nista begitu sederhana, Madya sedikit lebih besar, dan Utama akan tampak sangat megah dan meriah. Namun dari pemahaman rohani dan sastra suci, ketiga tingkatan upacara tersebut pada hakekatnya memiliki nilai yang sama. Bahkan tingkatan Nista atau yang terkecilpun bisa memiliki nilai yang utama dikarenakan rasa bakti dan ketulusan dalam pelaksananaannya. Namun kembali lagi soal rasa, rasa dari pemahaman dan pemikiran seorang manusia. Meskipun rasa sejatinya bukanlah sebuah kebenaran yang sejati, karena rasa seringkali dipengaruhi oleh pola pikir, pengetahuan dan ego pribadi.

Besarnya sebuah ritual keagamaan yang dilakukan sejatinya bukan sebuah jaminan bahwa upacara tersebut akan memberikan manfaat yang utama pula bagi sang penyelenggara.  Dalam upacara agama, baik Nista, Madya, Utama memiliki hakekat yang sama dan nilai yang sama di hadapan Tuhan. Namun demi rasa, banyak yang cenderung memilih yang upacara yang besar atau utama. Banyak yang mengganggap tingkatan utama adalah yang terbaik, meskipun dengan biaya yang jauh lebih mahal, sehingga rela berhutang atau menjual warisan leluhur. Padahal salah satu tujuan berupacara atau beryadnya adalah membayar hutang, yang kita kenal dengan Tri Rna, yaitu hutang kepada Tuhan, hutang kepada para Rsi, dan hutang kepada leluhur. Dengan alasan beryadnya dan bakti, seseorang rela berhutang dan menjual warisan, itu sama saja artinya membayar hutang dengan berhutang lagi, alias gali lubang tutup lubang, kapan lunasnya semua hutang ini.
Jadi sejatiinya hanya demi rasa-lah seseorang menghamburkan banyak materinya dalam pelaksanaan sebuah upacara yadnya, bukan demi nilai dan manfaat rohani yang akan diperolehnya. Bukan karena rasa bakti yang tulus kepada Tuhan, namun lebih demi demi rasa, rasa yang semu, rasa bangga, kepuasan pribadi dan berbagai rasa yang menyenangkan sang ego.

Berbicara soal rasa, anak-anak cenderung tidak menyukai sayuran, bagi mereka rasanya tidak enak. Padahal sayuran memberikan berbagai manfaat kebaikan dan kesehatan bagi tubuh. Obat itu rasanya pahit, namun ia menyembuhkan. Gula rasanya manis,namun ia bisa berakibat buruk bagi tubuh anda dan ketika anda menderita diabetes, mengkomsumsi gula bisa membunuh anda. Rasa memang penting, namun rasa tidak menunjukan kebenaran akan manfaat kebaikan yang akan diperoleh. 

Demikian juga, upacara yang besar, megah dan meriah tidak menjamin akan memberikan manfaat rohani atau manfaat kebaikan bagi si penyelenggara. Begitu juga sebaliknya yadnya yang sederhana pun, bisa memberikan manfaat dan nilai rohani yang tertinggi bagi sang yajamana. Rasa setiap orang berbeda namun sastra suci memberikan petunjuk yang sama bagi semua orang.  Beragama dengan lebih dominan menempatkan rasa sebagai landasannya akan menimbulkan banyak penyimpangan dari pelaksanaannya. Rasa dipengaruhi oleh berbagai pengaruh dari dalam dan luar diri manusia, baik situasi, kondisi, pengetahuan dan pemahaman, namun sastra suci berada di luar semua pengaruh tersebut, karena ia bersumber dari segala sumber pengetahuan yaitu Tuhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar