Secara tradisi, banyak sekali ritual upacara yang
diselenggarakan oleh masyarakat kita yang cenderung lebih berlandaskan kepada
rasa. Rasa adalah suasana hati, atau perasaan yang timbul di dalam pikiran dan
hati ketika melakukan sesuatu. Ketika seseorang telah melakukan sebuah kegiatan
yang baik, maka ia merasa bahagia. Demikianpun ketika seseorang telah
melaksanakan sebuah upacara keagamaan atau yadnya, ia pun merasa bahagia.
Bahagia karena merasa telah melaksanakan sebuah hal yang baik, baik bagi
dirinya, keluarga dan leluhurnya. Meskipun mungkin ia tidak memahami secara jelas makna dan
tujuan dari ritual upacara yang ia laksanakan, namun ia merasa bahagia, merasa
senang dan merasa puas.
Dalam masyarakat kita, umat Hindu di Bali, rasa adalah hal yang
cenderung lebih dominan dijadikan sebagai landasan dalam kehidupan beragama
terutama dalam hal pelaksanaan ritual berupacara. Tidak dapat dipungkiri bahwa
nilai rasa bahkan terkadang menggeser nilai-nilai dan petunjuk dari sastra
suci.
Sebuah contoh kecil, di daerah tempat tinggal saya, warga
akan melaksanakan upacara ngaben secara masal setiap 3 tahun sekali. Tujuan
utama dari ngaben masal ini adalah kebersamaan dan gotong royong sehingga biaya
yang dibutuhkan akan menjadi jauh lebih murah, namun dalam pelaksanaannya tetap
didasari dan sesuai dengan petunjuk dari sastra suci atau dari sang Sulinggih
Ngaben massal menjadi lebih murah karena satu jenis banten
atau upakara bisa dipergunakan untuk semua orang yang ikut dalam upacara ngaben
tersebut. Artinya satu untuk semua, tidak satu persatu, sebagaimana halnya
ngaben yang dilaksanakan secara individu. Hal inipun sudah sesuai dengan sastra
dan petunjuk sang Sulinggih. Namun
karena faktor rasa, banyak juga yang merasa kurang puas atau kurang sreg dalam
pelaksanaannya.
Ada yang berkomentar “I
dadong, ipidan dugas nu hidup, anak lek-lekan, sing demen megarang. Pedalem di
kedituan ne sing maan duman banten nyen!”. “Dulu nenek waktu masih hidup,
beliau seorang yang pemalu, tidak senang berebutan. Kasihan nanti kalau di alam
sana tidak kebagian sesajen”.
Nah ini adalah rasa, rasa yang timbul dari pikiran dan
pemahaman manusia. Rasa takut, rasa khawatir tentang sesuatu yang tidak benar.
Tidak benarlah bahwa di alam sana, para leluhur akan berebutan banten, karena
upacara dilaksanakan secara masal. Namun karena faktor rasa cenderung lebih
dominan dalam pelaksanaan sebuah ritual upacara agama kita di Bali, maka
seringkali sesuatu yang sejatinya bisa dilaksanakan secara sederhana , satu
untuk semua, namun tetap dalam aturan sastra suci, malah diabaikan dan dipandang
sebelah mata, dan masyarakat cenderung memilih ritual yang besar dan megah,
meskipun dengan biaya yang jauh lebih besar.
Tidak salah jika seseorang dengan kemampuan ekonomi yang
lebih, memilih upacara dengan tingkatan utama, yang megah dengan biaya yang
besar. Namun akan menjadi sebuah beban bagi masyarakat dengan ekonomi rata-rata
bersikeras untuk melaksanakan yang sama seperti itu, apalagi dengan menjual
warisan atau berhutang. Hal utama dalam setiap ritual upacara adalah
ketulusannya, rasa yang tulus inilah yang memberi nilai pada upacara tersebut,
bukan besarnya banten, besarnya biaya atau kemegahannya.
Dalam sastra suci telah dijelaskan bahwa ada tiga tingkatan
berupacara yaitu Nista, Madya dan Utama. Secara kasat mata, memang akan
tampak jelas perbedaannya dalam pelaksanaannya. Tingkat Nista begitu sederhana, Madya
sedikit lebih besar, dan Utama akan
tampak sangat megah dan meriah. Namun dari pemahaman rohani dan sastra suci,
ketiga tingkatan upacara tersebut pada hakekatnya memiliki nilai yang sama.
Bahkan tingkatan Nista atau yang
terkecilpun bisa memiliki nilai yang utama dikarenakan rasa bakti dan ketulusan
dalam pelaksananaannya. Namun kembali lagi soal rasa, rasa dari pemahaman dan pemikiran
seorang manusia. Meskipun rasa sejatinya bukanlah sebuah kebenaran yang sejati,
karena rasa seringkali dipengaruhi oleh pola pikir, pengetahuan dan ego
pribadi.
Besarnya sebuah ritual keagamaan yang dilakukan sejatinya
bukan sebuah jaminan bahwa upacara tersebut akan memberikan manfaat yang utama
pula bagi sang penyelenggara. Dalam
upacara agama, baik Nista, Madya, Utama
memiliki hakekat yang sama dan nilai yang sama di hadapan Tuhan. Namun demi
rasa, banyak yang cenderung memilih yang upacara yang besar atau utama. Banyak
yang mengganggap tingkatan utama adalah yang terbaik, meskipun dengan biaya
yang jauh lebih mahal, sehingga rela berhutang atau menjual warisan leluhur. Padahal
salah satu tujuan berupacara atau beryadnya adalah membayar hutang, yang kita
kenal dengan Tri Rna, yaitu hutang
kepada Tuhan, hutang kepada para Rsi, dan hutang kepada leluhur. Dengan alasan
beryadnya dan bakti, seseorang rela berhutang dan menjual warisan, itu sama
saja artinya membayar hutang dengan berhutang lagi, alias gali lubang tutup
lubang, kapan lunasnya semua hutang ini.
Jadi sejatiinya hanya demi rasa-lah seseorang menghamburkan
banyak materinya dalam pelaksanaan sebuah upacara yadnya, bukan demi nilai dan
manfaat rohani yang akan diperolehnya. Bukan karena rasa bakti yang tulus kepada
Tuhan, namun lebih demi demi rasa, rasa
yang semu, rasa bangga, kepuasan pribadi dan berbagai rasa yang menyenangkan
sang ego.
Berbicara soal rasa,
anak-anak cenderung tidak menyukai sayuran, bagi mereka rasanya tidak enak. Padahal
sayuran memberikan berbagai manfaat kebaikan dan kesehatan bagi tubuh. Obat itu
rasanya pahit, namun ia menyembuhkan. Gula rasanya manis,namun ia bisa
berakibat buruk bagi tubuh anda dan ketika anda menderita diabetes,
mengkomsumsi gula bisa membunuh anda. Rasa memang penting, namun rasa tidak
menunjukan kebenaran akan manfaat kebaikan yang akan diperoleh.
Demikian juga, upacara yang besar, megah dan meriah tidak
menjamin akan memberikan manfaat rohani atau manfaat kebaikan bagi si
penyelenggara. Begitu juga sebaliknya yadnya yang sederhana pun, bisa
memberikan manfaat dan nilai rohani yang tertinggi bagi sang yajamana. Rasa
setiap orang berbeda namun sastra suci memberikan petunjuk yang sama bagi semua
orang. Beragama dengan lebih dominan
menempatkan rasa sebagai landasannya akan menimbulkan banyak penyimpangan dari
pelaksanaannya. Rasa dipengaruhi oleh berbagai pengaruh dari dalam dan luar
diri manusia, baik situasi, kondisi, pengetahuan dan pemahaman, namun sastra
suci berada di luar semua pengaruh tersebut, karena ia bersumber dari segala
sumber pengetahuan yaitu Tuhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar